Cerita Aris Indarto soal Teror hingga Bonus Berlipat Persija di El Clasico Indonesia: Boleh Kalah dari Tim Lain, Asal Jangan Persib!

4 hours ago 2

Bola.com, Jakarta - Mantan bek Persija Jakarta era 2000-an, Aris Indarto, membagikan pengalaman menarik seputar laga klasik bertajuk El Clasico Indonesia antara Macan Kemayoran versus Persib Bandung.

Cerita itu diungkapkan Aris Indarto saat berbincang di channel YouTube Bicara Bola yang dipandu eks kiper Persebaya Surabaya, Alfonsius Kelvan, baru-baru ini.

Aris mengatakan, tekanan dan intimidasi sudah menjadi bagian tak terpisahkan bagi siapa pun yang membela Persija, terutama ketika tandang ke Bandung. Bahkan, teror kerap dirasakan sejak sebelum laga dimulai.

“Kalau di Bandung kami berangkat senyap karena kalau sampai kita diketahui, pagi-pagi hotel sudah pasti hancur. Itulah bentuk-bentuk teror buat nurunin mental pemain Persija,” buka Aris Indarto.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Intimidasi Hal Biasa

Meski demikian, Aris menegaskan bahwa teror semacam itu tak terlalu memengaruhi mental skuad Macan Kemayoran kala itu. Pengamanan ketat di stadion membuat pemain tetap fokus menjalani pertandingan.

“Kalau dulu ya, itu enggak ngaruh buat kami karena di lapangan juga sudah banyak pengamanan. Kalau di lapangan sama intimidasi itu biasa. Bahkan dulu sempat Ismed Sofyan coba lapangan kena pukul juga,” kenangnya.

Menurut Aris, intimidasi bukan hanya dirasakan saat melawan Persib. Setiap laga tandang Persija selalu menghadirkan tekanan luar biasa, tak terkecuali ketika bermain di Medan dan Makassar.

“Siapa pun pemain yang pernah di Persija pasti bentuk intimidasi dan tekanan itu hal biasa. Bahkan di PSMS sampai kacanya enggak ada, di PSM juga. Bagi kami zaman dulu itu biasa karena mental sudah dibentuk seperti itu," katanya.

Persiapan Khusus Jelang Duel Panas

Jelang laga panas melawan Persib, tim pelatih Persija sudah menyiapkan skenario khusus jauh-jauh hari. Pemain pun dituntut siap secara mental untuk menghadapi atmosfer El Clasico Indonesia.

“Semua sudah dipersiapkan. Seminggu sebelum match sudah dipersiapkan oleh pelatih bahwa pertemuan lawan Persib harus ngapain saja. Selebihnya tinggal kita sendiri untuk pertandingan itu,” ujar Aris.

Pria berusia 47 tahun tersebut juga menyinggung soal tekanan di Kabupaten Bandung yang disebutnya lebih menyeramkan dibandingkan area kota.

“Kalau masalah intimidasi lebih seram di Kabupaten Bandung karena Bobotoh banyak orang kabupaten juga. Akses keluar masuk Stadion Sangkuriang kecil, biasanya banyak yang nunggu di luar pakai pentungan-pentungan baseball,” bebernya.

Bonus Berlipat dan Harga Diri

 Selain gengsi, faktor bonus juga menjadi pemantik motivasi tinggi dalam duel Persija versus Persib. Aris Indarto berujar, tekanan di kandang sangat besar karena target utama adalah kemenangan.

"Kami dulu ada aturan bahwa di kandang tekanannya lebih tinggi. Harus menang untuk memaksimalkan poin. Apalagi sekarang kalau di luar dapat poin penuh, itu bisa berlipat-lipat jumlah bonusnya dari yang standar,” tuturnya.

"Sekarang liga lebih bagus, meningkat keamanannya. Bagi tamu sebenarnya lebih diuntungkan. Boleh kalah sama tim lain, tapi sama Persib jangan. Itu sudah mengakar,” tegas Aris.

Sayangnya, pada El Clasico jilid pertama BRI Super League 2025/2026, Persija harus mengakui keunggulan Persib 0-1 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Minggu (11/1/2026) sore WIB.

Rekor Manis di Bandung

Pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah itu pernah dua periode membela Macan Kemayoran di musim 2000/2001 dan 2008/2009. Pengalaman paling berkesan bagi Aris ialah catatan apik Persija saat bermain di Bandung pada masanya.

“Kalau bagi kami zaman dulu sangat berkesan karena dulu rekor kami untuk kalah di Bandung belum pecah. Paling jelek seri, selebihnya menang,” ucap Aris Indarto dengan bangga.

Eks pemain Persik Kediri dan PSIS Semarang itu menambahkan, tensi pertandingan benar-benar tinggi karena banyak pemain Maung Bandung kala itu merupakan putra daerah Jawa Barat.

“Di luar sudah panas sama suporter, di dalam sama pemain-pemain. Luar biasa. Kalau menang ya kami sangat bahagia. Boleh dengan tim lain kalah, asal jangan dengan Persib,” pungkas Aris.

  • 0%suka
  • 0%lucu
  • 0%sedih
  • 0%marah
  • 0%kaget
  • 0%aneh
  • 0%takut
  • 0%takjub
  • Ana Dewi
  • Gregah Nurikhsani
Read Entire Article
Kunjungan Pemerintah | Dewasa | | |