Kolom: 15 Menit yang Kontradiktif Dramatis bagi Persija dan Arema

10 hours ago 4

Bola.com, Jakarta - Malam itu, Gelora Bung Karno menjelma katedral sepak bola. Lampu-lampunya menyapu wajah-wajah yang percaya, genderang memukul udara, dan nyanyian membentuk keyakinan kolektif: inilah kandang Persija Jakarta, tempat dominasi seharusnya menemukan takdirnya. Bola pun berputar setia pada kaki tuan rumah—rapi, sabar, penuh rencana.

Di lapangan, Persija tampak seperti orkestra yang telah menghafal partitur. Witan Sulaeman membuka sayap, memanggil ruang. Gustavo Almeida menunggu di garis tipis antara peluang dan off-side.

Di belakang mereka, Rizky Ridho memimpin garis dengan suara pendek dan tegas—mengatur jarak, mengunci tempo, memastikan keberanian tetap beralas disiplin.

Di seberang, Arema FC menulis kisah dengan tinta yang berbeda. Mereka memilih diam yang berisi. Hansamu Yama mengikat barisan belakang seperti simpul yang tak mudah dibuka; Betinho memutus alur tanpa perlu sorotan; dan Adi Satryo berdiri sebagai penjaga waktu—tenang, menunggu detik yang tepat.

Dari pinggir garis, Maurício Souza kerap melangkah maju, meminta tempo dipercepat; sementara Marcos Santos menahan gestur, menguatkan rencana dengan isyarat agar blok tetap rapat.

Pelatih Persija Jakarta Mauricio Souza menjelaskan keributan usai laga melawan Arema FC di SUGBK, Minggu (8/2/2026). Ia menilai selebrasi Gabriel Furtado dan sikap staf lawan memicu ketegangan setelah pertandingan.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Sepanjang malam, Persija menumpuk kepemilikan. Bola berpindah, crossing dilepas, dan stadion mengalirkan dorongan. Namun Arema membaca pertandingan sebagai kalender: mereka tak mengejar menit, mereka menunggu momen.

Lalu datang peristiwa yang menggeser poros emosi—gol Persija yang dianulir VAR. Garis ditegakkan; harapan tersentak. Di titik itu, kesabaran diuji oleh keinginan untuk segera menyelesaikan.

Masuklah lima belas menit terakhir—lima belas menit yang kontradiktif.

Bagi Persija, waktu mendadak menyempit. Struktur menyerang ditarik terlalu jauh ke depan. Rizky Ridho menaikkan garis, mencoba menjaga keberanian tetap hidup. Namun sepak bola menghukum bukan niat, melainkan jarak.

Saat Arema mencuri transisi dan gol pertama lahir dari ketepatan, kamera menangkap Ridho berbalik cepat, menepuk tangan, berteriak pendek—bukan marah, melainkan ajakan.

Ia mengumpulkan lini belakang, menunjuk ruang yang terlepas, meminta kepala tetap dingin. Sejenak, ia menatap tribun—lalu kembali ke posisi, seolah berkata: kita belum selesai.

Kepastian yang Dipupuk

Bagi Arema, lima belas menit itu adalah kepastian yang dipupuk lama. Setiap sapuan Hansamu adalah undangan agar Persija naik setapak lagi.

Setiap intersepsi Betinho menegaskan disiplin. Hingga Gabriel Silva datang pada waktu yang tepat—sentuhan ringkas, penyelesaian dingin. Dari pinggir garis, Marcos Santos hanya mengepalkan tangan singkat; ia tahu, rencana tak butuh perayaan.

Gol pertama mengubah wajah malam. Persija all-out; Arema kian tenang. Adi Satryo membaca arah crossing, mengamankan bola, dan melempar cepat—keputusan kecil yang menyalakan hukuman. Di menit-menit akhir, saat Persija menumpuk pemain dan jarak antarbek meregang, Gabriel Silva kembali hadir. Gol kedua menutup cerita sebelum peluit memberi restu.

Makna Berlapis

Papan skor menuliskannya sederhana: 0–2. Namun maknanya berlapis. Persija menguasai bola; Arema menguasai waktu. Persija menguasai stadion; Arema menguasai lima belas menit.

Di tengah gemuruh yang mereda, Rizky Ridho berdiri di garis terakhir—napas ditata, tangan kembali mengatur—sebuah potret kepemimpinan yang tak kalah penting dari gol: menerima pukulan, merapikan barisan, dan tetap menatap ke depan.

GBK tetap megah. Kekalahan tak merobohkannya, sebagaimana kemenangan tak membuat Arema lupa diri. Sepak bola, seperti sastra yang jujur, memilih baris terakhirnya sendiri: dominasi tanpa ketenangan adalah suara tanpa makna; kesabaran dengan tujuan bisa berbisik lebih keras daripada kuasa. Lima belas menit telah lewat—kontradiksi itu tinggal, hidup, dan mengajar.

*)Penulis pemerhati sepak bola, anggota DPR RI Partai Gerindra

Read Entire Article
Kunjungan Pemerintah | Dewasa | | |