Jadikan Bima Sakti Sebagai Idola, Ponaryo Astaman Kenang Momen Bersejarah Tukaran Jersey Usai Final Divisi Utama Liga Indonesia 1999/2000

12 hours ago 3

Bola.com, Jakarta - Setiap pesepakbola pasti punya idola. Bambang Pamungkas misalnya, ia sangat mengidolakan Kurniawan Dwi Yulianto. Keduanya kini dikenang sebagai legenda terbaik yang dipunya Timnas Indonesia.

Seperi halnya Bepe-sapaan akrab Bambang Pamungkas, eks gelandang andalan Timnas Indonesia, Ponaryo Astaman juga punya idola. Ia mengidolakan Bima Sakti.

Baik Kurniawan Dwi Yulianto maupun Bima Sakti merupakan alumnus PSSI Primavera yang pernah berguru sepak bola modern di Italia, dari 1993 hingga 1995.

Saat itu, Primavera sangat fenomenal di Tanah Air. Maklum, tim yang diarsiteki pelatih bertangan dingin Danurwindo bermaterikan pemain-pemain muda memesona dari belahan daerah Indonesia.

Selain Bima Sakti dan Kurniawan Dwi Yulianto, nama-nama beken lainnya adalah Yeyen Tumena, Kurnia Sandy, Supriyono, Alex Pulolo, Anang Ma'ruf, dan Aris Indarto.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Alasan Ponaryo Mengidolai Bima Sakti

Ponaryo Astaman punya banyak alasan mengapa menjadikan Bima Sakti sebagai patron. Selain sama-sama bermain di lini tengah sebagai gelandang, keduanya juga berasal dari derah yang sama: Balikpapan.

Perjumpaan istimewa Ponaryo Astaman dan Bima Sakti terjadi di final Divisi Utama Liga Indonesia 1999/2000. Di momen bersejarah itu, Ponaryo Astaman memperkuat PKT Bontang dan Bima Sakti memperkuat PSM Makassar.

Duel yang mentas di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 23 Juli 2000 berakhir getir bagi PKT. Tim Bukit Tursina kalah tipis 2-3 dan harus puas finis sebagai runner up.

Lazimnya setelah pertandingan usai, kedua tim saling bertukas jersey. Ponaryo Astaman tak melewatkan begitu saja tradisi itu. Ia kemudian menghampiri Bima Sakti. Keduanya bertukar jersey.

Lewat kanal YouTube Bola Bung Binder belum lama ini Ponaryo Astaman kembali mengenang momen bersejarah itu. Menurut Ponaryo Astaman, ia memang benar-benar sangat mengidolakan Bima Sakti yang usianya empat tahun lebih tua darinya.

"Jujur ya, memang idola benar. Karena kita kan sama-sama dari Balikpapan nih," kata Ponaryo Astaman.

"Kebetulan waktu itu saya seangkatan sama adiknya dan satu sekolah. Main di tim Persiba junior ikut Suratin dan lain-lain. Saya sama adiknya itu lama," imbuh kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur, 25 September 1979.

Bima Sakti Sempat Jadi Kapten Timnas Indonesia

Sukses Bima Sakti berangkat ke Italia bersama Primavera membuat Ponaryo Astaman dan rekan-rekannya di Balikpapan terkagum-kagum. Sepulang dari Italia, karier Bima Sakti kian moncer. Ia bahkan dipercaya sebagai kapten tim nasional.

"Bima itu jadi salah satu pemain dan kapten bahkan di tim yang waktu itu lagi top di Indonesia yaitu Primavera. Waktu itu ada Kurniawan Dwi Yulianto, Mas Bima, kemudian juga ada Indriyanto Nugroho".

"Nah, kita waktu itu umurnya beda sekitar tiga atau empat tahun dengan mereka. Kita melihat mereka sebagai idola. Apalagi setelah pulang dari Italia dan main di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dulu kan namanya masih Stadion Utama Senayan. Nah, itu kita ngelihatnya ke situ. Jadi idola-lah," kata Ponaryo Astaman.

Perjalanan Karier Ponaryo Astaman

Selepas dari PKT Bontang, perjalanan karier Ponaryo Astaman terus mengalir sampai jauh. Ia juga pernah memperkuat tim-tim papas atas tanah air seperti PSM Makassar, Arema Malang, Persija Jakarta, dan Sriwijaya FC.

Bersama Laskar Wong Kito, Ponaryo Astama menggondol banyak trofi, yakni jawara Indonesia Super League 2011/2012, kampiun Piala Indonesia 2010, terkuat di ajang Indonesian Community Shield 2010, serta dua kali menjadi yang terbaik di pentas Indonesian Inter Island Cup 2010 dan 2012.

Di Timnas Indonesia, Ponaryo Astaman juga langganan di banyak palagan. Selama satu dekade, dari 2003 hingga 2013, ia nyaris tak tergantikan di lini tengah dan bahkan mengikuti jejak idolanya dipercaya sebagai kapten Tim Merah Putih.

Torehannya bersama Tim Merah Putih cukup sukses dengan torehan runner up Piala AFF 2004, runner up Pestabola Merdeka 2006, dan jawara Indonesian Independence Cup 2008.

Ia mengakhiri kariernya di Borneo FC pada 2017 dan sampai saat ini masih menjadi bagian dari tim berjuluk Pesut Etam sebagai direktur utama atau CEO.

Read Entire Article
Kunjungan Pemerintah | Dewasa | | |